PERGESERAN BAHASA INDONESIA
DI ERA KESEJAGATAN
Oleh
Baharuddin Iskandar*
(Guru
Bahasa dan Sastra Indonesia)
(Tulisan ini terbit di Koran Tribun Timur, Makassar, Februari 2011)
Kesejagatan
memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian besar orang
menafsirkan sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana
layaknya sebuah desa kecil, setiap orang bisa berkomunikasi dengan sangat
mudah, berhubungan dengan waktu yang singkat, dan dengan biaya yang relatif
rendah.
Sekarang ini penggunaan penggunaan bentuk
‘Inggris’ sudah banyak menggejala. Dalam bidang internet dan komputer kita
banyak menggunakan kata mendownload,
mengupload, mengupdate, dienter, direlease, didiscount, dan lain
sebagainya. Tidak hanya dalam bidang komputer saja, di bidang lain pun sering
kita jumpai. Selain bahasa Asing, kedudukan bahasa Indonesia juga semakin
terdesak dengan pemakain bahasa-bahasa gaul di kalangan remaja. Bahasa gaul ini
sering kita temukan dalam pesan singkat atau sms, chatting, dan sejenisnya. Misalnya dalam
kalimat’gue gitu loh..pa
sich yg ga bs’ dalam kalimat tersebut penggunaan kata ganti aku
tidak dipakai lagi. Kita tidak dapat memahfumi, betapa kalimat yang digunakan
dalam sistem maklumat singkat (SMS) yang digunakan di telepon seluler/ genggam (handpone) merusak tata nilai bahasa
nasional kita. Tulisan yang mengikuti selera ‘pasar’ anak muda atau selera
pasar ekonomi menimbulkan banyak pengaruh.
Tidak hanya pada rakyat kecil, ‘krisis
bahasa’ juga ditemukan pada para pejabat negara. Kurang intelek katanya kalau
dalam setiap ucapan tidak dibumbui selingan bahasa asing yang sebenarnya tidak
perlu. Hal tersebut memunculkan istilah baru, yaitu ‘Indoglish’ kependekan dari
‘Indonesian-English’ untuk fenomena
bahasa yang kian menghantam bahasa Indonesia. Sulit dipungkiri memang, bahasa
asing kini telah menjamur penggunaannya. Mulai dari judul film, judul buku,
judul lagu, sampai pemberian nama merk produk dalam negeri. Kita pun merasa
lebih bangga jika lancar dalam berbicara bahasa asing. Namun, apapun alasannya,
entah itu menjaga prestise, mengikuti perkembangan zaman, ataupun untuk meraup
keuntungan, tanpa kita sadari secara perlahan kita telah ikut andel dalam
mengikis kepribadian dan jati diri bangsa kita sendiri.
Tulisan berikut ini menguraikan
kesiapan bahasa Indonesia dalam menghadapi dinamika yang berlangsung. Mau atau
tidak mau, dan pasti tidak dapat menghindari, bahwa bahasa Indonesia mengalamI
problematika pembinaan dan pengembangan di era kesejagatan, sebagaimana
disebutkan di atas. Rumusan masalah tulisan ini adalah bagaimanakan bentuk
pergeseran bahasa Indonesia? Upaya apa yang harus dilakukan untuk pemertahanan
bahasa Indonesia di era kesejagatan?
Pergeseran Bahasa Indonesia
Pada
pokoknya, pergeseran bahasa Indonesia di era kesejagatan dipengaruhi oleh
interaksi masyarakat kita di bangku sekolah sehingga masyarakat bahasa menjadi
dwibahasawan atau multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan atau
multibahasawan, ia dihadapkan pada pertanyaan, yaitu manakah di antara bahasa yang ia
kuasai merupakan bahasa yang paling penting saat ini? Di saat-saat
seperti inilah terjadinya proses pergeseran bahasa, yaitu menempatkan sebuah
bahasa menjadi lebih penting di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai.
Akan
tetapi, faktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya faktor penyebab terjadinya
pergeseran bahasa. Teknologi, komunikasi, dan informasi yang demikian gencar
menjadi penyebab terjadi perpindahan penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Chaer (2004:142), pergeseran bahasa (language
shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau
sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat
tutur yang lain. Dengan kata lain, pergeseran bahasa bukan
disebabkan oleh masyarakat yang menempati sebuah wilayah, melainkan oleh
pendatang yang mendatangi sebuah wilayah.
Era
teknologi, komunikasi, dan informasi yang cepat juga menyebabkan bahasa
Indonesia bergeser karena faktor ekonomi. Kemajuan ekonomi kadang-kadang
mengangkat posisi sebuah bahasa menjadi bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kasus ini dapat dicermati pada bahasa Inggris. Jauh sebelum bahasa Inggris
muncul, bahasa yang pertama sekali dipakai di tingkat internasional adalah
bahasa Latin. Karena semakin maju perekonomian di Inggris yang ditandai oleh
adanya revolusi industri, orang kemudian beralih ke bahasa Inggris. Bahkan demi
bahasa Inggris, orang rela meninggalkan bahasa pertamanya. Kedudukan bahasa
Inggris ini semakin diperkuat oleh adanya perusahaan-perusahaan baik swasta
maupun negeri yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan
yang harus dipenuhi oleh para pelamar kerja. Bukan hanya itu, di tingkat
perguruan tinggi saja lulus TOEFL merupakan salah satu syarat untuk dapat
mengikuti sidang sarjana. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya tentu saja karena
Eropa merupakan penguasa ekonomi di dunia ini.
Di samping itu, pergeseran bahasa
Indoneisa juga terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan
berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Dalam
perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih
senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing. Hal tersebut
memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri
bangsa. Bahasa Inggris yang telah menjadi raja sebagai bahasa internasional
terkadang memberi dampak buruk pada perkembangan bahasa Indonesia. Kepopuleran
bahasa Inggris menjadikan bahasa Indonesia tergeser pada tingkat pemakaiannya.
Penyebab lain adalah interferensi
bahasa daerah dan pengaruh bahasa gaul. Dewasa ini bahasa asing lebih sering
digunakan daripada bahasa Indonesia hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai
contoh, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada
“Dilarang Merokok”, “Stop”
untuk “berhenti”, “Exit”
untuk “keluar”, “Open House”
untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain
yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa
asing lebih memiliki nilai.
C.
Upaya Pemertahanan
Di Era kesejagatan, bahasa Indonesia harus
tampil menjadi bahasa yang baik, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan sesuai
dengan norma kemasyarakatan yang berlaku saat ini. Misalnya, dalam situasi
santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di
lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu
terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato
kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang
selalu memperhatikan norma bahasa.
Namun, tidak kalah menariknya, era
kesejagatan juga harus menampilkan bahasa Indonesia secara benar yaitu bahasa
Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang
berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata,
kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan
penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata
ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika
kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak
benar atau tidak baku.
Untuk itu, selain sikap pemakai bahasa
Indonesia maka upaya pemertahanan bahasa
Indonesia melalui pengajaran menjadi penting. Melalui dunia pendidikan yang
syarat pembelajaran menggunakan media bahasa, mampu menjadikan bahasa sebagai
alat komunikasi yang primer. Berbagai kemajuan teknologi, informasi dan
komunikasi, menjadi pijakan awal dunia pendidikan untuk memertahankan bahasa
Indonesia. Pemanfaatan berbagai kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi
dijadikan wahana pembelajaran bahasa Indonesia berbasis ICT (Information, Communication and
Technology). Pemanfaatan ICT untuk pendidikan sudah menjadi
keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Penutup
Dinamika bahasa Indonesia, apakah
mampu bertahan, bergeser atau punah di era kesejagatan terlepas pada kita dan
kembali pada fungsi bahasa itu sendiri. Sudah saatnya kita bangga sebagai
pemilik dan pengguna bahasa Indonesia diharapkan bisa mengposisikan bahasa
Indonesia sebagai media komunikasi, teknologi dan informasi di era kesejagatan.
Ketika mewariskannya bahasa Indonesia kepada anak cucu kita secara nyata dan
bukan sekedar tekad atau niat
Daftar
Bacaan
Chaer, Abdul dan Agustina Leony. 2004.
Sosiolinguistik: Perkenalan
Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Kridalaksana,
Harimurti.1996. Pembentukan Kata Dalam
Bahasa Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka.
Kushartanti, dkk (eds). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami
Linguistik.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Saussure, Ferdinand de. 1993. Pengantar
Linguistik Umum. Penerjemah Rahayu S.
Hidayat Yokyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Sumarsono dan Partana Paina. 2002. Sosiolinguistik. Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolingistik: Suatu Pengantar.
Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar